Perkembangan Energi Bersih di Asia: Tantangan dan Peluang
Perkembangan terkini dalam penghasilan tenaga di Asia mencerminkan pergeseran yang rumit namun signifikan menuju tenaga bersih, meskipun ketergantungan pada batu bara tetap menjadi tantangan. Sejak tahun 2015, Asia telah meningkatkan produksi listrik bersih dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil lebih cepat daripada Amerika Utara dan Eropa. Pangsa tenaga bersih di wilayah ini, termasuk hidro dan nuklir, naik sekitar 8 persen menjadi 32%, sementara pangsa bahan bakar fosil dalam pembangkitan listrik turun sebanyak itu menjadi 68%.
Meskipun ada kemajuan ini, Asia, yang merupakan rumah bagi setengah populasi dunia, masih menyumbang sebagian besar emisi pembangkitan listrik global. Terutama, emisi pembangkitan listrik di Asia telah meningkat hampir 4% setiap tahun sejak perjanjian iklim Paris, sebagian besar karena pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara baru di negara-negara seperti India dan Tiongkok untuk memenuhi permintaan listrik yang meningkat. Perkembangan ini menggarisbawahi dilema energi global yang lebih luas. Sementara negara-negara Asia telah berhasil dalam meningkatkan produksi energi bersih, pertumbuhan emisi mereka menunjukkan tantangan berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Situasi ini semakin rumit dengan enggan beberapa negara Barat untuk mendanai penghentian operasional pabrik yang mencemari di Asia, meskipun mereka sendiri sejarahnya bergantung pada bahan bakar fosil. Sebagai contoh, Indonesia, produsen listrik berbahan bakar batu bara terbesar ketujuh di dunia, menghadapi kendala dalam beralih dari batu bara karena kekurangan dana dan tarif tinggi untuk energi terbarukan. Sementara itu, dalam upaya untuk mencapai tujuan iklim, beberapa negara Barat mengurangi pendanaan untuk batu bara, yang mereka anggap sebagai ancaman besar bagi lingkungan. Namun, pergeseran ini telah mengakibatkan peningkatan ketergantungan pada gas alam baik di Eropa maupun Amerika Utara. Pangsa gas dalam pembangkitan listrik Eropa naik menjadi 26% pada tahun 2022 dari tahun 2015, dan di Amerika Utara, meningkat menjadi 36%. Pergeseran menuju gas alam, yang sering dianggap sebagai bahan bakar transisi, mencerminkan pilihan yang rumit yang dihadapi negara-negara dalam upaya global untuk mengurangi emisi dan melawan perubahan iklim. Source : Reuters (Reporting by Sudarshan Varadhan)
0 Comments
Leave a Reply. |
AuthorKumpulan berita industri Archives
December 2023
Categories |

RSS Feed